Header Ads

ad

Cara Menghadapi Anak Mudah Marah

mengatasi anak tantrum

"Ngambekan", sebutan bagi si kecil yang mudah marah. Anak yang sedang marah memang merupakan situasi yang menjengkelkan, mengikis kesabaran, dan membuat frustasi para orang tua. Bukannya menenangkan sang anak, tidak jarang orang tua yang membiarkannya, balik memarahinya, menghukumnya, atau bahkan melakukan kekerasan fisik agar sang anak diam. Ingat apa yang terjadi bila api dibalas dengan api? Kita sebagai orang tua harus ingat bahwa penyebab kemarahan anak sangat berbeda dengan penyebab amarah orang dewasa. Kita sebagai orang tua harus menjadi penyejuk dari anak yang sedang marah, sehingga anak dapat memahami kesalahannya sendiri dan belajar dari teladan orang tua untuk mengatasi amarah.

Berikut tips-tips penting yang dapat orang tua lakukan ketika menghadapi anak yang sedang marah.

1. Tetap Tenang

Langkah paling pertama dan paling sederhana, tetap tenang. Tarik dan hembuskan napas secara perlahan  untuk membantu ayah dan bunda tetap tenang. Jangan biarkan kemarahan anak menyulut emosi kita sebagai orang tua. Rata-rata, kita akan tersulut emosi di enam detik pertama, jadi berusahalah tetap tenang selama enam detik pertama ini. Jika anak marah di tempat umum, kita bisa menggendongnya ke tempat yang lebih sepi agar mengurangi pandangan orang lain. Hal ini juga akan membantu ayah dan bunda untuk tetap tenang.

2. Memeluk Anak

Seperti yang sudah dibahas di awal, penyebab anak marah itu berbeda. Tidak jarang disebabkan oleh hal yang sangat sepele, seperti merasa kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Semakin anak bertumbuh besar, kita merasa sebagai orang tua dapat membiarkan anak kita sendiri, kedekatan fisik dengan orang tua bisa berangsur-angsur berkurang. Dengan ini anak bisa saja merasa sudah tidak diperhatikan dan tidak disayangi orang tuanya lagi. Pelukan, belaian, dan usapan bisa menangani permasalahan seperti ini. Biasakan memeluk atau mencium dengan tulus anak sebelum pergi bekerja atau ketika anak sedang sakit. Cara ini terbukti ampuh untuk meredakan anak yang mudah marah.

3. Peka Terhadap Perasaan Anak

Anak kerap marah ketika diminta melakukan sesuatu yang tidak disukai atau dihalangi ketika ingin melakukan sesuatu yang disukai. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus mengenali kebiasaan dan perasaan anak kita. Mulailah dari kenali sesuatu yang mereka sukai, hal yang ingin mereka lakukan atau tidak, mainan kesukaanya, dan lainnya sampai ke hal yang mereka takuti. Jika kita ingin mengenalkan sesuatu yang baru kepada anak, hindari dengan cara langsung memaksa mereka untuk melakukannya. Mulailah dengan perlahan dan bertahap sebagai bentuk pembiasaan, sehingga anak akan terbiasa dan dengan senang hati melakukannya. Hal ini juga berlaku jika kita ingin membuat anak kita menghilangkan kebiasaan yang menurut kita tidak baik.

4. Berikan Larangan dengan Alasan Logis

Larangan memang menjadi hal yang lumrah diberikan orang tua kepada anaknya untuk alasan keamanan. Namun anak umumnya belum memiliki keberanian untuk berdebat dan berpendapat dengan orang tuanya, bahkan ketika hal yang dilarang adalah hal yang sangat ingin dilakukannya. Bagi anak, kata-kata seperti "jangan", "tidak boleh", dan semacamnya bisa membuat mereka merasa dibatasi dan tidak dipercayai oleh orang tuanya sendiri. Alasan yang logis dan mampu dimengerti anak perlu disampaikan ketika kita melarang anak kita melakukan sesuatu. Sehingga anak paham akibat buruk dan resiko dari perbuatan tersebut.

5. Jalin Komunikasi yang Baik

Salah satu alasan lain anak menjadi pemarah adalah tidak terbentuknya komunikasi yang cukup baik dengan orang tua. Sehingga anak mengalami kesulitan ketika ingin mengungkapkan sesuatu kepada orang tuanya, sehingga yang terjadi adalah kekesalan dalam hatinya dan berakibat kepada teriakan, ngambek, atau bahkan merusak sesuatu. Tidak ada kata terlambat! Jika belum dilakukan, mulalilah membuat komunikasi yang hangat dengan anak. Anggaplah anak layaknya sahabat kita, dan anak pun akan menganggap kita sebagai pribadi yang dapat dijadikan sandaran. Jika komunikasi sudah berjalan dengan baik, anak akan mudah dalam mengungkapkan perasaannya kepada kita.

6. Jadilah Teladan

Orang-orang yang pertama ditiru oleh anak adalah keluargnya, terutama orang tuanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menjadi pribadi yang dapat mengolah emosinya dengan baik. Orang tua yang sehari-hari sering marah dan tidak mampu mengendalikan emosinya akan sangat mempengaruhi anak. Oleh karena itu, jika kita ingin anak mampu mengendalikan amarahnya, kita sebagai orang tua harus dapat menahan emosi ketika akan marah. Minimal sebagai permulaan, kita tidak boleh meluapkan kemarahan langsung di depan anak.

Anak Mudah Marah Bukan Berarti Terlahir Seperti Itu

Tidak ada anak yang dilahirkan dengan sifat pemarah, semua itu pasti ada penyebabnya. Untuk itukah kita sebagai orang tua harus bisa membantu anak kita untuk menghadapi masalah emosi ini. Jika bukan kita orang tua sebagai orang terdekat mereka, siapa lagi?

Tidak ada komentar